Indikator asam-basa adalah senyawa halokromik yang ditambahkan dalam jumlah
kecil ke dalam sampel, umumnya adalah larutan yang akan
memberikan warna sesuai dengan kondisi pH larutan tersebut. Pada temperatur 25° Celsius, nilai pH untuk larutan netral adalah 7,0. Di
bawah nilai tersebut larutan dikatakan asam, dan di
atas nilai tersebut larutan dikatakan basa. Kebanyakan
senyawa organik yang dihasilkan makhluk hidup mudah melepaskan proton (bersifat sebagai Asam Lewis), umumnya Asam Karboksilat dan Amina, sehingga
indikator asam-basa banyak digunakan dalam bidang kimia hayati dan kimia
analitik.
Mekanisme perubahan warna oleh indikator adalah reaksi asam-basa, pembentukan kompleks, dan reaksi
redoks
Pengertian Asam Basa
Asam
dan basa sudah dikenal sejak zaman dulu. Istilah asam (acid) berasal dari
bahasa Latin acetum yang berarti cuka. Istilah basa (alkali) berasal dari
bahasa Arab yang berarti abu. Basa digunakan dalam pembuatan sabun. Juga sudah
lama diketahui bahwa asam dan basa saling menetralkan. Di alam, asam ditemukan
dalam buah-buahan, misalnya asam sitrat dalam buah jeruk berfungsi untuk
memberi rasa limun yang tajam. Cuka mengandung asam asetat, dan asam tanak dari
kulit pohon digunakan untuk menyamak kulit. Asam mineral yang lebih kuat telah dibuat sejak abad pertengahan,
salah satunya adalah aqua forti (asam nitrat) yang digunakan oleh para peneliti
untuk memisahkan emas dan perak.
LARUTAN ASAM-BASA DAN
INDENTIFIKASINYA
MENURUT ARRHENIUS
MENURUT ARRHENIUS
Asam ialah senyawa yang dalam larutannya dapat menghasilkan ion H+.
Basa ialah senyawa yang dalam larutannya dapat menghasilkan ion OH-.
Contoh:
MENURUT BRONSTED-LOWRY
Asam ialah proton donor, sedangkan basa adalah proton akseptor.
Contoh:
HCl dengan Cl - merupakan pasangan asam-basa konyugasi.
H3O+ dengan H2O merupakan pasangan asam-basa
konyugasi.
H2O dengan OH- merupakan pasangan asam-basa
konyugasi.
NH4+ dengan NH3 merupakan
pasangan asam-basa konyugasi.
Pada contoh di atas terlihat bahwa air dapat bersifat sebagai asam
(proton donor) dan sebagai basa (proton akseptor). Zat atau ion atau spesi
seperti ini bersifat ampiprotik (amfoter).
MENURUT LEWIS
Asam adalah senyawa penerima (akseptor) pasangan elektron. Basa
adalah senyawa pemberi (donor) pasangan elektron
Contoh :
dari contoh diatas BF3 bertindak sebagai asam lewis
sedangkan NH3 bertindak sebagai basa lewis
Ciri-Ciri umum larutan asam yaitu :
- Terasa masam
- Bersifat korosif
- Dapat memerahkan kertas lakmus biru
- Larutan dalam air dapat mengantarkan arus listrik
- Menyebabkan perkaratan logam (korosif)
Ciri-ciri umum larutan basa yaitu :
- Rasanya pahit
- Bersifat licin
- Dapat membirukan kertas lakmus merah
- Larutan dalam air dapat mengantarkan listrik
- Jika mengenai kulit, maka kulit akan melepuh (kaustik)
IDENTIFIKASI
LARUTAN ASAM-BASA MENGGUNAKAN KERTAS LAKMUS
Kertas
lakmus akan mengalami perubahan warna jika dimasukkan (dicelupkan) ada larutan
yang memiliki pH antara 5.0-9.0, yang mana pada pH dibawah 7.0 (larutan asam)
kertas lakmus akan berwarna merah sedangkan pada pH diatas 7.0 (larutan
basa) kertas lakmus akan berwarna biru.
Teori:
Larutan
asam dapat memerahkan kertas lakmus, artinya jika kertas lakmus biru
dicelupkan pada larutan yang bersifat asam maka warna kertas lakmus tersebut
akan berubah menjadi merah sedangkan jika kertas lakmus merah
yang dicelupkan warna kertas lakmus akan tetap merah. perhatikan gambar
dibawah ini!
Teori:
Larutan basa dapat membirukan kertas lakmus, artinya jika kertas lakmus merah
dicelupkan pada larutan yang bersifat basa, maka warna kertas lakmus tersebut
akan berubah menjadi biru. Sedangkan jika kertas lakmus biru yang
dicelupkan, warna kertas lakmus akan tetap biru. perhatikan gambar
dibawah ini!
IDENTIFIKASI
LARUTAN ASAM BASA MENGGUNAKAN INDIKATOR FENOLFTALEIN
Larutan
indikator fenolftalein akan mengalami perubahan warna pada pH 8.0-9.8,
ini artinya warna larutan fenolftalein akan berubah jika larutan ini
dicampurkan (ditambahkan) larutan yang bersifat basa (pH larutan diatas 7.0)
atau dapat diartikan pula bahwa larutan yang bersifat basa akan mengalami
perubahan warna menjadi merah jika ditambahkan indikator fenolftalein.
Perhatikan gambar dibawah ini:
Gambar.1
Gambar.2
Dari
kedua gambar diatas dapat dibedakan antara perubahan warna yang terjadi setelah
penambahan fenolftalein antara Gambar 1 dan Gambar 2. Pada
Gambar 1 warna larutan tetap kuning walaupun telah ditambahkan fenolftalein
hal ini menandakan bahwa warna fenolftalein tidak berubah pada larutan
tersebut. fenolftalein tidak mengalami perubahan pada Gambar 1 karena larutan
tersebut adalah larutan asam yang memiliki pH dibawah 7,0. Pada Gambar
2 terjadi perubahan warna larutan menjadi merah setelah penambahan fenolftalein.
Sesuai dengan teori bahwa larutan fenolftalein akan berwarna merah jika
ditambahkan pada larutan yang bersifat basa yang memiliki pH lebih dari 7,0.
Selain
menggunakan indikator berupa kertas lakmus dan fenolftalein dalam menentukan
larutan asam-basa, kita juga dapat menggunakan indikator alami misalnya dengan
ekstrak kunyit dan bunga kembang sepatu, nah sekarang tugas anda adalah
menentukan larutan asam-basa dengan menggunakan indikator alami tersebut!!
Caranya adalah sebagai berikut:
- Siapkan kunyit dan bunga kembang sepatu, air jeruk atau cuka dan air sabun atau air kapur
- Kunyit atau bunga kembang sepatu ditumbuk dan ditambahkan aquadest (air) kemudian disaring sehingga diperoleh filtrat (ekstak)
- Ekstrak kunyit dan ekstrak kembang sepatu tersebut masing-masing diteteskan pada air jeruk atau cuka dan air sabun atau air kapur
- Amati perubahan warna larutan yang terjadi pada air jeruk atau cuka dan air sabun atau air kapur




Tidak ada komentar:
Posting Komentar